Tanya

Pagi kembali kudapati, kemana langkah ini akan ku bawa, di ujung jalan yang penuh persimpangan ataukah pada asaku yang pernah kugantungkan padamu? Aku termangu menunggu jawab di sini.

Tanyaku menjadi sajak panjang, pada pencuri hati berkhianat, menjadi kisah paragraf demi paragraf, mejadi bait-bait puisi yang belum juga sampai pada titik

Bahkan, telah menjadi nada kerinduan yang terngiang, kemudian menjauh, pergi, sunyi kembali, menyisakan sepi, tinggallah nada jarum jam yang terus berdetak, berputar, tak kenal pada lelah.

Perlahan terbuka mataku menatap pagi, dalam rintih hati yang makin lirih, tangan ku maraba detak nadi “ternyata aku masih hidup” dan akan tetap hidup meski tanpamu.

#Picture by : Khaidir Ali Sukses Mulia

Masih Terus Belajar Ikhlas

Dalam gelap, ku tangkap sketsa samar bayang rautmu,…membuat senyumku terukir patah di sudut lisan. Menyeruak bersama dingin yang terserap dalam sunyinya malam,  menemaniku membalut sekeping hati yang terbiar dalam basahnya luka. 

Air mata masih saja mengalir, lembut membelai sudut pipi, bercengkerama dengan denyut nadi, sudah menjadi sahabat, seakan selalu membisik “sudahlah tidak perlu diingat kembali”. Namun tetap saja, walau aku sudah menempatkanmu disudut penglupaan, engkau masih mengusikku di dasar ingatan, maka aku hanya akan bersabar dengan waktu, bukankah suratan takdir sudah tertulis di lauh mahfuzh jauh sebelum kita ada…….dan tidak mungkin suratan itu salah alamat, maka di sini aku hanya mampu untuk terus belajar mengikhlaskan kepergianmu…

Tidak ku pungkiri, bahwa namamu masih menari-nari dalam alunan do’aku, tapi bukan berarti aku tidak mengiklhaskanmu, aku hanya ingin tidak ada lagi sakit yang terkoyak karena merindu, tidak ada lagi kasih yang ternoda karena cinta terkhianat. Akupun tahu rindu itu tidak lagi halal untukku,……..maka aku hanya mengalirkan rinduku bersama derasnya do’aku…….”semoga engkau baik-baik saja di sana”.

Banda Aceh, 23022017

Pilihan dari Istikharah Ku

Bagaimana mungkin aku mengizinkanmu pulang, sementara di lain hari kamu pulang ke hati yang lain, maaf tapi inilah jawaban dari istikharah rinduku, aku memilih berbalik arah, bukan karena rinduku telah selesai, tapi karena aku lelah, aku ingin istirahat, bersandar di bahumu seperti dulu, bercerita tentang lelahku, adalah mimpiku, tapi Barokallah, sekarang aku menemukan tempat bersandar paling nyaman, dalam sujudku di antara do’a ku.

Maaf, aku berbalik arah bukan karena aku menyerah, tapi aku hanya pasrah, aku hanya akan mengubah rinduku menjadi sajak yang ku goreskan pada kertas usang, kemudian melipatnya dan menyimpan disudut ruang, yang suatu saat bisa ku baca kembali menjadi dongeng indah pengantar tidur anak-anak kita.

Maaf, aku berbalik arah bukan karena rinduku telah membeku, aku hanya ingin mengumpulkannya, membungkusnya dan menenggelamkannya di kuburan masa lalu, dan tak perlu aku menaburinya dengan bunga-bunga harapan di pusaranya yang bertuliskan kenangan itu, walau mungkin semuanya tidak akan lekang begitu saja dari tepi penglupaan.

Maaf aku berbalik arah, karena aku tak mampu mengiklhaskan dirimu untuk berbagi kasih, maka aku hanya akan membebaskanmu dari jerat rinduku, dan aku hanya akan memelukmu dalam do’aku, andai saja suatu saat nanti engkau pulang, alasannya hanya satu karena Allah Ta’alla, itu saja….
 

Pertemuan di Traffic Light

Dulu, di traffic light Sukasari, Bogor, pertama kali kita jumpa. Dari dalam mobil yang engkau kendarai engkau menoleh ke arahku yang kebetulan angkot yang aku tumpangi bersebelahan dengan mobilmu. Masih lekat dalam benakku sorot matamu yang tajam menghunjam sampai palung terdalam hatiku, membuatku tak berdaya pada pandangan pertama. Pandangan pertama yang menciptakan pandangan – pandangan selanjutnya, karena engkau selalu menunggu aku pulang kuliah di traffic light itu.
                      ***
Dan tadi di traffic light Jembatan Pante Perak, Banda Aceh, mengingatkan ku pada kenangan itu, aku dalam perjalanan pulang, masih dalam balutan baju dinas dan roda dua plat merah kesayanganku, aku kembali menemukan sorot tatapmu yang tajam, tapi kenapa tak seperti dulu yang menghunjam sampai palung hatiku? Sorot matamu kali ini begitu lemah. Aku terkesima sesaat, aku ingin menatap matamu itu, ingin sekali,  tapi entahlah, karena tanganku segera menurunkan kaca helm, aku takut jatuh lagi pada pandanganmu seperti dulu,……aku takut, …….. keinginan ku itu bukan keinginanmu.

60 detik di traffic light terasa begitu lama, dan satu…..dua…….tiga kutancap gas, melesat cepat begitu lampu hijau menyala. Padahal telah 10 purnama aku menunggu temu padamu, tapi aku mendapatkan diriku tak mampu menatapmu, sedangkan pertanyaan yang ingin kusampaikan begitu banyak, menyesaki pikirku. Apa kabarmu? Kenapa kamu meninggalkanku? Kenapa tatapmu begitu lemah? Sakitkah? Kapan kamu akan pulang? Tahukah kamu, aku masih di sini menunggumu? Tahukah anak-anak selalu menanyakan mu?

Pertanyaan – pertanyaan  itu kini berkumpul di sudut mata, mengalir bersama air mataku, deras tanpa jawab……membasahi hatiku, menenggalamkan aku dalam diam. Sekarang di senja yang mulai menghilang ini, aku terpedaya oleh rasa yang tak biasa, setumpuk skripsi yang harus ku periksa tak mampu menarik perhatianku, layar pc yang menampilkan nilai-nilai rancangan percobaan  pun tak mampu mengalihkan ingatanku, tentang sorot matamu di traffic light tadi, akankah esok masih akan tercipta pertemuan yang tak sengaja seperti tadi??????????
Rasaku tak biasa….dan tulisanku pun tak selesai, …….

Aku di Antara Otak Dan Hati

Otak berkata pada hati,” kamu jangan larut pada masa lalu, lupakan karena seerat apapun kamu memeluknya dia sudah pergi, simpanlah di sudut memori atau sudah waktunya untuk kamu mendeletenya”.
Hati menanggapi, ” walaupun air mataku mengalir setiap hari bersama namanya,  tapi aku ingin tetap bernafas untuknya, karena masa lalu itu, aku ingin tetap bertahan, tapi kenapa aku mesti melupakan masa lalu itu?”.
Otak pun menyahutnya,”karena kalo kamu masih saja terus terpana pada masa lalu kamu akan dibenamkannya dalam lumpur kedukaan dan kamu akan sulit untuk bangkit lagi “.
Si hatipun termenung, sesaat kemudian menjawabnya,” aku hanya ingin dia kembali, mengembalikan hatiku yang telah di curi olehnya, karena semua ruang di hati ini adalah tempatnya, perasaanku padanya “. Otak pun tersenyum mendengar jawaban si hati, sambil berkata ” untuk apa kamu mempertahankannya, lihatlah kedepan, jalan masih panjang menunggumu, biarkan masa lalumu dibawa matahari tenggelam bersamanya, sambutlah mimpimu dipurnama malamnya, kemudian bangunlah bersama fajar dan embun akan menyambutmu bersama harapan baru”.
Tapi si hati tetap tidak pergi dari gemingnya, matanya menerawang seolah tidak perduli apa yang di ucapkan oleh otak, di sudut senyumnya dia menggumam,” terserah apa kamu bilang, biarlah setiap waktu aku masih mengeja kata dalam kalimat – kalimat panjang tentang riwayat takdir ku, walaupun sudah membeku…..aku ingin mencairkan dengan kristal- kristal do’aku yang kularutkan bersama heningnya malam ini dan malam – malam selanjutnya, aku hanya ingin sepenggal kisah masa lalu yang kami sulam bersama menjadi indah kembali, penuh warna seperti pelangi  walaupun warna pelangi itu pernah di hitamkan olehnya”.
Si otakpun terdiam kelelahan bersama pikirnya. Hatipun makin hanyut dalam aliran rindu perasaannya ……… aku si pemilik otak dan hati tergelincir dalam bingung.

Kemarin, Hari ini dan Esok

Yang tercecer itu adalah kemarin, menjadi puing yang berserakan, yang telah tersimpan disudut masa lalu yang sudah menjadi kenangan, menjadi butiran – butiran mimpi yang tak perlu di ingat kembali, biarlah menguap bersama embun pagi hari….

Yang nyata itu adalah hari ini, realita yang harus dihadapi, dijalani tanpa bisa  ditawar, atau di protes kok begini, kok begitu, maunya begini, maunya begitu. Di Jalani saja, balut dengan keikhlasan, dekap dengan keimanan, dan hanya mengharap rahmat-NYA, walau terkadang  realitas hari ini sangat menyakitkan, menyesakkan,  dan membuat air mata tak berhenti mengalir.

Yang terbayang itu adalah esok, hari yang belum tentu dipinjamkan untuk kita , hari yang masih menjadi rahasia,  hari yang masih menjadi pengharapan dalam senandung alunan do’a-do’a merdu.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

(“Dan akupun berharap Semoga saja hari  esok masih di pinjamkan untuk ku , agar aku bisa  menuntaskan rindu  yang  tertunda ini, rindu denganmu suamiku…..semoga engkau segera menemukan jalan pulang dan juga aku berharap do’a ini menjadi do’amu juga”).

Terlihat rumput-rumput itu tetap berdansa dengan angin yang  erat memeluknya, ketika bait-bait sajak ku torehkan diselembar kertas, untuk mengingat hari pertama kita bersua. Nanar mata memandang, gontai raga menimang, sasaat setelah tatap tertuju pada tempat kenangan kita terukir indah, yang kemudian membawa kita pada mahligai sakral perkawinan, bahtera rumah tangga. 

Masih terasa seperti baru kemarin, namun kerasnya badai telah membuatmu meninggalkan bahtera, membiarkan ku bertahan sendirian melawan kerasnya deburan ombak di samudera hatiku yang tak bersampan lagi, keras mendera raga yang mulai rapuh, tinggal kedua tangan telanjang menghadang badai, hanya ditemani senandung do’a yang terus tergumam dalam  sepi.

Ah…………andai saja senandung  do’a itu adalah tiket untuk dirimu pulang, aku akan menyenandungkannya setiap saat, berkali-kali tanpa jengah merayap di hati, agar di bawa malaikat untuk menyampaikannya padamu. Namun andai saja senandung do’aku belum juga sampai padamu, aku berharap di bawa oleh angin ke angkasa dititipkan pada awan yang pada akhirnya akan berjatuhan bersama rintik hujan, kemudian mengalir dan bermuara padamu.

Malam ini, biarlah rindu ini tetap pada tualangnya, berbincang dengan air mata menjadi lumprah, bersulang dengan kesunyian menjadi biasa dan aku menjadi yang selalu merindu dalam harapan yang terus perpegang, berusaha menggenapkan rasa merangkumnya menjadi mimpi yang sederhana akan hakekat sebuah rasa. Berpeluk dengan  kepasrahan, mendekap keikhlasan, dan berdamai dengan kesabaran dalam menjalani ketentuanNya.

#suarahatidiantaragerimismalam   (04022017)

Merangkai kata, menorehkannya di sini agar suatu saat bisa ku baca kembali